New Media • Art • Movement
InstagramYouTubeSpotify
Mature
Fotografi

FOTO Bali Festival Mengangkat “Afterimage”

26.07.26Redaksi

Bayangan yang tertinggal di mata setelah gambar hilang — dipakai sebagai cara memikirkan foto sebagai ingatan, arsip, dan bukti.

FOTO Bali Festival 2026 resmi dibuka pada Juni lalu dengan tema “Afterimage”. Istilah itu diambil dari gejala optik: bayangan yang masih tertinggal di penglihatan sesaat setelah kita berhenti menatap sesuatu. Sebagai tema festival foto, ia dipakai untuk merefleksikan jejak yang ditinggalkan sebuah gambar setelah gambar itu sendiri berlalu.

Kurasinya dikerjakan Kurniadi Widodo dan Putu Sridiniari. Lewat tema tersebut, seniman diajak mengeksplorasi fotografi sebagai memori, arsip, bukti, jejak sejarah, sekaligus ruang spekulasi. Deretan itu menempatkan foto dalam posisi yang tidak stabil — sekaligus alat pembuktian dan bahan untuk berandai-andai.

Ketegangan itu bukan hal baru dalam fotografi, tetapi terasa berbeda ketika diletakkan di Bali. Pulau ini termasuk tempat yang paling banyak difoto di Indonesia, dan citranya sudah lama dibentuk oleh gambar yang dibuat orang luar untuk konsumsi orang luar. Membahas “jejak yang ditinggalkan sebuah gambar” di tempat seperti itu berarti membahas juga siapa yang selama ini memegang kamera.

Bersama JIPFest di Jakarta pada September, keduanya menandai satu hal yang layak dicatat: festival fotografi di Indonesia sedang bergerak dari memamerkan foto menuju mempersoalkan foto.

Bagikan

Baca Juga