Endek Sidemen Akhirnya Punya Arsip

Dokumentasi sebuah tradisi tenun Bali yang nyaris punah rampung dikerjakan — pekerjaan yang tidak menghasilkan kain, tetapi menentukan apakah kain itu masih bisa dibuat nanti.
Pekerjaan dokumentasi tenun endek di Sidemen, Bali, dinyatakan rampung pada awal Juli 2026 — sebuah ikhtiar merawat warisan yang disebut nyaris punah. Sidemen, di Kabupaten Karangasem, sudah lama dikenal sebagai salah satu pusat tenun endek dan songket Bali.
Dokumentasi terdengar seperti pekerjaan yang membosankan, dan memang begitu. Ia tidak menghasilkan kain, tidak menghasilkan pameran, dan hampir tidak pernah masuk berita. Yang dihasilkannya adalah catatan: urutan proses, nama motif, takaran warna, istilah teknis yang hanya dipakai di satu kampung dan tidak punya padanan di tempat lain.
Nilainya baru terasa ketika penenun terakhir yang menguasai satu teknik tertentu berhenti bekerja. Pada titik itu, catatan adalah satu-satunya yang tersisa antara sebuah tradisi dan hilangnya tradisi itu sepenuhnya. Tanpa arsip, kebangkitan kembali harus dimulai dari menebak.
Persoalannya sama dengan yang dihadapi tenun di Nusa Tenggara Timur: pengetahuan yang diwariskan lisan selalu satu generasi jaraknya dari lenyap. Bedanya, upaya di Sidemen memilih menuliskannya sebelum, bukan sesudah, keadaan menjadi darurat.


