Tenun NTT dan Pertanyaan Siapa yang Akan Melanjutkan

Motifnya diwariskan tanpa ditulis. Persoalannya bukan lagi pasar, melainkan siapa yang masih mau duduk berjam-jam di depan alat tenun.
Tenun ikat Nusa Tenggara Timur termasuk warisan budaya takbenda yang paling sering disebut dalam pidato dan paling jarang dibicarakan persoalan teknisnya. Setiap motif menyimpan kisah dan nilai yang diwariskan turun-temurun — kalimat yang benar, tetapi tidak menjelaskan apa pun tentang kondisi kerja orang yang menenunnya.
Persoalan yang paling mendesak justru soal orang, bukan soal motif. Banyak anak muda mulai menjauh dari dunia tenun; sebagian menganggapnya kuno, rumit, dan kurang menjanjikan secara ekonomi. Sementara itu para penenun tradisional semakin menua, dan regenerasi berjalan lambat. Pengetahuan yang tidak pernah ditulis hanya bisa berpindah lewat kehadiran — dan kehadiran itu yang sedang berkurang.
Tekanan datang dari arah lain juga. Kain bermotif cetak massal yang menyerupai tenun beredar dengan harga jauh lebih murah, sementara akses terhadap bahan pewarna alami justru semakin sulit. Penenun diminta bersaing dengan tiruan dirinya sendiri, dengan ongkos bahan yang naik.
Sejumlah upaya berjalan untuk membalik arah itu. Universitas Nusa Cendana membuka program studi Teknik Pembuatan Tenun Ikat dan menggelar pameran wastra NTT bertajuk “Jalinan Nusa” — usaha memindahkan pewarisan dari ruang keluarga ke ruang kelas, sekaligus mendorong tenun menjadi produk ekonomi kreatif tanpa melepas identitas budayanya.
Apakah pendekatan itu cukup, belum bisa dijawab sekarang. Yang jelas, pertanyaannya sudah bergeser. Bukan lagi apakah tenun akan bertahan sebagai benda — melainkan apakah ia akan bertahan sebagai keahlian yang hidup di tangan orang, atau berhenti menjadi barang yang dipamerkan.



